Begini Cara Utak Atik Keuangan Saat Ramadan Agar Gaji Awet

1 views

Liputan6.com, Jakarta Bulan Ramadan tinggal menghitung hari. Siap-siap pengeluaran bakal membengkak meskipun seharian penuh berpuasa. Kebutuhan makin banyak, dan harganya cenderung naik selama bulan suci Ramadan.

Biasanya, permintaan terhadap kebutuhan pokok mengalami peningkatan selama bulan Ramadan. Hal ini berdampak pada kenaikan harga jual, seperti beras, daging ayam, daging sapi, bawang merah dan putih, aneka cabai, telur, serta bahan makanan lainnya.

Belum lagi ajakan buka puasa bersama yang datang hampir setiap hari. Bisa bikin dompet jebol sebelum gajian tiba. Oleh karena itu, pentingnya mengatur keuangan saat Ramadan. Rencana keuangan ini sudah harus Anda pikirkan menjelang puasa, sehingga nantinya tidak kaget dan tinggal dipraktikkan.

Berikut ini cara mengatur keuangan selama Ramadan agar gaji tak cepat habis. Apalagi di tengah mewabahnya virus corona atau Covid-19, seperti dikutip dari Cermati.com.

1. Belanja Kebutuhan Pokok Jauh-jauh Hari

Seminggu menjelang Ramadan, biasanya harga jual kebutuhan pokok mulai merangkak naik. Untuk menyiasati hal ini, Anda dapat berbelanja sembako jauh-jauh hari. Misalnya saja sebulan atau dua minggu sebelum puasa.

Sembako tersebut, contohnya beras, minyak goreng, gula pasir, susu, telur, tepung terigu, bawang merah, bawang putih, dan bahan pangan lainnya yang dapat disimpan cukup lama atau tidak cepat basi. Tapi ingat ya, jangan memanfaatkan kondisi darurat pandemi corona sampai panic buying.

Selanjutnya begitu Ramadan tiba, Anda tinggal membeli sayur mayur atau bahan pangan lain untuk sahur dan berbuka sesuai daftar menu yang sudah Anda buat agar lebih mudah dalam mengalokasikan anggaran.

2. Masak di Rumah dan Tolak Ajakan Bukber atau Jajan di Luar

Saat ini, masyarakat Indonesia diimbau untuk di rumah aja. Bekerja, beribadah, dan belajar dari rumah. Di Jakarta bahkan, sudah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sehingga ada larangan untuk berkerumun atau berkumpul.

Jadi manfaatkan kondisi dan situasi ini untuk berhemat lebih banyak. Masak sendiri di rumah untuk sahur dan berbuka. Dengan demikian, Anda tidak akan tergoda membeli takjil atau jajan di luar.

Jika ada teman yang mengajak bukber di luar, tolak secara halus. Katakan saja bahwa Anda sudah memasak di rumah, atau menjadikan PSBB sebagai alasan. Sehingga Anda tak perlu merasa bersalah ketika menolak ajakan tersebut.

Coba hitung penghematan dari tidak bukber di luar besar loh. Misalnya ada 10 kali ajakan bukber. Bila harga makanan dan minuman di restoran sekitar Rp50 ribu saja, Anda sudah dapat menghemat Rp500 ribu. Lumayan kan buat tabungan di hari raya.

 

3. Belanja dengan Memanfaatkan Promo

Tips komunikasi soal keuangan suami istri./Copyright pexels.com
Tips komunikasi soal keuangan suami istri./Copyright pexels.com

Ramadan bisa dibilang momennya promo bertebaran. Spesial Ramadan banjir promo, berupa diskon, cashback, harga spesial, flash sale, sampai buy 1 get 1. Ada yang menggunakan dompet digital, belanja online di e-commerce, ataupun memakai kartu kredit dan kartu debit.

Manfaatkan saja promo yang ada. Jika Anda biasanya menggunakan produk merek A, tapi sedang tidak diskon. Kemudian ada merek B yang sedang ada promo, lebih baik beli merek B. Toh manfaat dan kegunaannya sama, hanya beda merek saja. Cari yang lebih murah agar bisa berhemat.

Tapi perlu diingat, jangan mudah tergiur dengan promo yang ditawarkan. Anda harus melihatnya dengan cermat. Alih-alih mau dapat yang lebih murah, tapi Anda malah kena jebakan diskon atau promo.

4. Mengesampingkan Keinginan

Dalam mengatur keuangan, prinsip utama adalah fokus pada kebutuhan, bukan keinginan. Memprioritaskan kebutuhan pokok atau keperluan mendesak, bukan sesuatu yang masih bisa ditunda. Utamakan membayar sewa rumah, tagihan listrik dan air, mencicil utang atau pinjaman, membayar uang sekolah anak, tabungan, dana darurat, dan investasi.

Keinginan dapat dibeli ketika Anda mendapatkan uang lebih atau hasil dari penghematan. Namun pada dasarnya, jika keinginan itu tidak terlalu penting, lebih baik tidak usah dibeli karena hanya menghambur-hamburkan uang.

5. Terapkan Hidup Sederhana

Di masa pandemi ini, keuangan lagi morat marit. Banyak orang dirumahkan tanpa digaji dan kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Semua serba prihatin. Janganlah hidup bermewah-mewah. Makan apa adanya, namun tetap memperhatikan asupan gizi. Ramadan pada hakikatnya menahan diri dari lapar dan haus, termasuk menahan hawa nafsu berbelanja.

6. Tetap Gunakan Prinsip 10-20-30-40

Dalam mengatur keuangan, termasuk saat Ramadan, gunakan prinsip 10-20-30-40. Apa itu? Gaji atau penghasilan yang Anda terima setiap bulan, alokasikan 40%-nya untuk kebutuhan atau biaya hidup sehari-hari, seperti makan, biaya transportasi, membayar sewa rumah, tagihan listrik dan air, dan sesekali untuk hiburan.

Selanjutnya, sisihkan 30 persen dari gaji untuk membayar cicilan utang. Contohnya tagihan kartu kredit, cicilan rumah (KPR), cicilan kredit kendaraan.

Sementara untuk tabungan, dana darurat, atau investasi, alokasikan 20 persen. Sedangkan sisanya 10 persen, Anda dapat gunakan untuk beramal. Kembali lagi, prinsip keuangan ini tidak mutlak. Anda dapat menyesuaikan besarannya sesuai dengan kebutuhan.

Sumber