Harga Minyak Anjlok, Defisit APBN Terancam Melebar

2 views

Liputan6.com, Jakarta Terendah dalam sejarah, kontrak berjangka untuk harga minyak mentah Amerika Serikat (AS), turun lebih dari 100 persen dan berubah negatif untuk pertama kalinya pada perdagangan Senin. Hal ini menunjukkan seberapa turunnya permintaan minyak dunia akibat dari pandemi Corona covid-19.

Menurut pengamat Ekonomi, Piter Abdullah, anjloknya harga kali ini jelas akan mempengaruhi perekonomian dalam negeri. Pasalnya, banyak komoditas yang harus melakukan penyesuaian dengan resiko kejatuhan yang lebih dalam.

“Jatuhnya harga minyak kali akan menambah beban ekonomi Indonesia. Banyak komoditas Indonesia yang akan ikut terseret kehilangan pasar dan ambruk nilainya. Karet yang pasti,” ujat Piter kepada LIputan6.com, Selasa (21/4/2020).

Turunnya harga minyak tersebut, lanjut Piter, tentu akan berdampak pada perekonomian Sumatera yang sebagian besar masih berbasis pada perkebunan karet.

“Dengan tipologi masyarakat perkebunan tanaman industri, ekses dampak sosial dari anjloknya harga karet harus dipersiapkan,” imbuhnya.

 

Penerimaan Negara Turun

Ilustrasi Harga Minyak Naik (Liputan6.com/Sangaji)
Ilustrasi Harga Minyak Naik (Liputan6.com/Sangaji)

Sementara itu, Piter juga menyebutkan bahwa selain memukul ekspor, penurunan harga minyak juga akan semakin menurunkan penerimaan pemerintah.

“Defisit akan semakin lebar. Untungnya kita sudah punya Perppu untuk mengantisipasi pelebaran defisit. Dalam perppu pelebaran defisit tidak dibatasi sampai berapa,” jelasnya.

Sebagai informasi, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei turun lebih dari 100 persen menjadi menetap di negatif USD 37,63 per barel.

Sumber