HEADLINE: Nasib Dunia Usaha di Tengah Pandemi Corona, Siapa Bertahan, Tertekan atau Justru Tumbuh?

Liputan6.com, Jakarta – Dunia belum lepas dari bayang-bayang pandemi Corona Covid-19. Bukan semakin berkurang, beberapa negara justru dikonfirmasi akan mengalami gelombang kedua pandemi yang bermula dari Wuhan, China ini.

Sampai dengan Rabu 15 April 2020, warga dunia yang terinfeksi virus corona mencapai 1.973.715 kasus. Amerika Serikat (AS) tercatat sebagai negara yang memiliki kasus terbesar dengan 608.377 orang terkonfirmasi positif Covid-19. 

Mengutip dari gisanddata.maps.arcgis.com, jumlah kematian karena Covid-19 secara global tercatat sebanyak 125.910 jiwa.

Sedangkan di Indonesia, untuk periode yang sama, total orang yang positif terinfeksi Corona Covid-19 mencapai 5.136 jiwa. Selain itu, total yang sembuh mencapai 446 kasus dan kematian terjadi pada 469 kasus.

Untuk menahan penyebaran virus ini, pemerintah pun mengeluarkan berbagai kebijakan. Pertama adalah social distancing atau pembatasan sosial. Kebijakan ini mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga jarak dengan orang lain.

Kebijakan kedua, bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Selain itu, pemerintah juga meminta seluruh masyarakat untuk menggunakan masker saat berada di luar rumah. 

Kebijakan terbaru yang pengaruhnya paling besar adalah pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Dalam kebijakan ini, gerak warga sangat dibatasi dalam suatu wilayah.

Sebagian besar kegiatan yang melibatkan publik dibatasi, seperti perkantoran atau instansi diliburkan, pembatasan kegiatan keagamaan dan pembatasan transportasi umum.

Infografis Nasib Dunia Usaha Diterpa Corona (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Nasib Dunia Usaha Diterpa Corona (Liputan6.com/Triyasni)

Langsung Terasa

Dengan segala pembatasan tersebut membuat dunia usaha melesu. Pasalnya, segala gerak dibatasi sehingga para pengusaha tidak bisa berjualan lagi. Contoh paling nyata dan langsung terlihat saat ini adalah semakin sedikitnya masyarakat yang pergi ke pusat perbelanjaan.

Wakil Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja mengatakan, pandemi ini telah membuat jumlah kedatangan ke mal-mal di seluruh Indonesia anjlok hingga 90 persen.

“Jumlah kunjungan ke pusat perbelanjaan menurun sangat drastis. Bahkan ada yang cuma tinggal 10-20 persen saja. Berarti turun sampai 80-90 persen,” ujar dia kepada Liputan6.com.

Jumlah pengunjung merosot usai muncul anjuran untuk mengurangi kegiatan di luar rumah demi mencegah penyebaran virus. Kondisi tersebut, membuat pengelola mal banyak merugi.

Bahkan ada beberapa beberapa pusat perbelanjaan yang kemudian memilih untuk menutup operasi dan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ke karyawan.

Salah satu contohnya adalah Ramayana di City Plaza Depok. Sebanyak 87 karyawan Ramayana terpaksa kena PHK karena perusahaan memutuskan tidak lagi beroperasi sejak 6 April 2020 lalu.

Store Manager City Plaza Depok, M Nukmal Amdar menuturkan, wabah virus Corona menyebabkan omzet penjualan menurun hingga 80 persen. Akibatnya, perusahaan tak mampu lagi menanggung semua biaya operasional.

Selain pusat perbelanjaan, sektor perhotelan dan transportasi juga langsung terpuruk.

Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, Hariyadi Sukamdani mengatakan bahwa terdapat 1.226 hotel yang melaporkan menutup sementara aktivitas perhotelan. Jumlah ini bisa lebih banyak, lantaran ini hanya berdasarkan laporan yang diterima PHRI. Diperkirakan, jumlah pegawai hotel yang terdampak wabah virus corona ini mencapai 150 ribu orang.

Penutupan juga terjadi untuk sektor restoran. Menurutnya beberapa restoran yang di mal banyak yang tutup, dan hanya ada beberapa apa yang masih melayani order secara online.

“Restoran lebih banyak lagi cuma saya enggak punya datanya. Restoran paling tidak disiplin buat data,” tandas Hariyadi.

Sedangkan di sektor transportasi, industri penerbangan juga langsung terdampak. Beberapa maskapai penerbangan nasional sudah merumahkan pilot dan karyawannya karena pendapatan mereka menurun drastis.

“Logis aja kalau perusahaan pendapatannya berkurang banyak atau nol, sementara biaya tetap masih berjalan ya cash flow perusahaan akan berkurang atau minus,” ujar Sekjen Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Bayu Sutanto.

Sejak Januari sampai Maret 2020, terjadi penurunan penumpang pesawat. Bahkan sepanjang April tak ada permintaan pemesanan tiket pesawat sama sekali.

Dunia usaha angkutan darat di DKI Jakarta pun tak berdaya di tengah pandemi Corona. Jumlah penumpang menurun drastis lebih dari 90 persen yang membuat pemasukan bisnis menipis tapi beban pengeluaran tetap mengalir sehingga membuka ruang terjadinya kebangkrutan massal.

Organisasi Angkutan Darat (Organda) Provinsi DKI Jakarta memastikan setengah dari jumlah keseluruhan armada transportasi darat yang mencapai 85.902 telah berhenti beroperasi. Jika kondisi ini terus berlarut dipastikan bahwa pada Juni 2020, usaha transportasi darat ibu kota akan mati.

“Sekarang saja sudah terpuruk industri usaha transportasi darat, dua bulan ke depan mungkin ambruk,” kata Ketua Umum Organisasi Angkutan Darat (Organda) Provinsi DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan.

 

Survei Bank Indonesia

Ilustrasi Pertambangan.
Ilustrasi Pertambangan.

Bank Indonesia (BI) melakukan survei, terhadap 3.719 pelaku usaha yang tersebar di seluruh Indonesia. Hasilnya, menemukan jika memang terjadi penurunan kegiatan dunia usaha di Kuartal I 2020.

Turunnya kegiatan usaha terjadi pada sejumlah sektor ekonomi seperti sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran. Hal tersebut terutama disebabkan oleh adanya penurunan permintaan dan gangguan pasokan akibat wabah Corona.

Namun di luar itu juga ada sektor yang mampu bertahan. Sektor usaha yang akan bisa bertahan dan justru mengalami peningkatan di tengah pandemi Corona adalah sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan.

Secara subsektor, peningkatan terjadi pada tanaman perkebunan yang didorong oleh panen pada komoditas strategis perkebunan yaitu kelapa sawit, kakao dan cengkih.

Kemudian, subsektor perikanan juga diproyeksi meningkat sejalan dengan menurunnya curah hujan yang mempengaruhi hasil tangkapan.

Adapun sektor lainnya yang diproyeksi masih bertahan ialah sektor listrik, gas dan air bersih.

Lalu sektor pengangkutan dan komunikasi juga diproyeksi mengalami akselerasi, khususnya subsektor pengangkutan karena adanya hari Raya Idul Fitri. Namun memang, akselerasi ini tak tinggi karena masih adanya imbauan dari pemerintah terkait pembatasan mudik.

Terakhir, sektor jasa-jasa diperkirakan mengalami peningkatan kinerja yang cukup baik.

Sulit Bertahan

Sedangkan untuk sektor pertambangan dan penggalian diperkirakan akan tumbuh negatif. Harga minyak dunia serta curah hujan yang tinggi diprakirakan masih membatasi operasi sektor pertambangan dan penggalian.

Untuk kegiatan usaha sektor industri pengolahan diperkirakan tumbuh terkontraksi. Hal tersebut terjadi karena dampak dari permintaan yang menurun.

Sejalan dengan penurunan kinerja kegiatan usaha, penggunaan tenaga kerja pada sektor industri pengolahan juga mengalami penurunan yang semakin dalam.

Kegiatan usaha sektor kontruksi juga terindikasi tumbuh terkontraksi. Perlambatan kegiatan usaha disebabkan oleh melemahnya pangsa permintaan proyek konstruksi dan infrastruktur.

 

Tak Ada yang Tak Terimbas

Layanan telekomunikasi operator seluler.
Layanan telekomunikasi operator seluler.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Rosan P Roeslani menyatakan, tidak ada industri yang tidak terkena imbas penyebaran Corona. Namun, industri rokok dan telekomunikasi, seperti instalasi menara BTS, memang justru mengalami pertumbuhan dalam kondisi sekarang.

“Kalau yang tumbuh itu rokok, telekomunikasi, (pembangunan) BTS tower. Yang terdampak, sudah jelas pariwisata, hotel kan sudah tutup 1.600-an, restoran, transportasi, industrial estate, ritel dan penerbangan, itu sudah pasti,” jelasnya kepada Liputan6.com.

Rosan juga menyebutkan beberapa sektor usaha yang bertahan namun tidak mengalami kinerja yang signifikan, seperti industri otomotif, semen, konstruksi, petrokimia dan perbankan.

Wakil Ketua Umum Apindo Bob Azam menyatakan industri alat kesehatan dan farmasi serta obat-obatan naik karena saat ini permintaan terhadap alat kesehatan dan obat-obatan sedang naik.

Industri farmasi, alat kesehatan, telekomunikasi itu naik sekarang, karena orang beli alat kesehatan, obat, lalu berdiam diri di rumah dan bekerja di rumah jadi membutuhkan telekomunikasi,” ujar Bob kepada Liputan6.com.

Berbeda dengan Bob, Rosan menyatakan meskipun saat ini sedang baik, namun 90 persen bahan baku alat kesehatan masih impor sehingga harga masih mahal dan kinerja industri alat kesehatan dan farmasi juga tidak mengalami kenaikan yang tinggi.

Lebih lanjut Rosan menyatakan sektor perkebunan justru terdampak karena konsumsi dunia menurun.

“Seperti kelapa sawit, banyak untuk ekspor. Ini kan terdampak juga. Lalu pertambangan juga menurun, seperti coal mine, batu bara, ekspor kita kan ke India. Mereka kan pertumbuhannya sedang turun, jadi kita terhambat,” jelas Rosan.

Di sisi lain, Bob menyatakan, selain sektor pariwisata dan turunannya, sektor makanan dan minuman juga diprediksi akan turun meskipun awalnya diperkirakan naik.

“Awalnya diprediksi sektor makanan dan minuman naik, karena konsumsi naik, tapi karena mal-mll pada sepi, pada tutup, jadi sepertinya kinerjanya juga tidak signifikan,” tutur Bob.

Buka Segan Tutup Tak Mau

Pekerja menyelesaikan pembuatan mobil di pabrik di Karawang.(Liputan6.com/Immanuel Antonius)
Pekerja menyelesaikan pembuatan mobil di pabrik di Karawang.(Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, dampak dari Corona telah terjadi pelemahan yang tajam pada sektor manufaktur.

“Terjadi pelemahan yang tajam pada produksi sektor manufaktur. PMI manufaktur per kuartal I berada di 45,64 persen. Turun dari 51,50 persen pada kuartal sebelumnya dan 52,65 persen pada kuartal I-2019,” ujarnya pada Liputan6.com.

Selain itu, gelombang PHK secara langsung memberi tekanan terhadap anjloknya pendapatan masyarakat. Sehingga beberapa bulan kedepan omset industri makin menurun.

Cash flow pelaku usaha terganggu karena virus corona. Sementara tidak semua pelaku usaha dapat keringanan atau penangguhan cicilan kredit. Likuiditas yang ketat berisiko terhadap gelombang PHK yang lebih besar,” jelas Bhima.

“Beban ULN meningkat karena pelemahan kurs rupiah. Padahal tidak semua pelaku usaha lakukan hedging atau lindung nilai,” imbuhnya.

Sementara itu, menurut Bhima, beberapa sektor seperti farmasi dan obat-obatan banyak mengalami kenaikan permintaan di tengah corona. Baik permintaan APD, suplemen makanan, vitamin, dan sebagainya.

“Kemudian beberapa sektor tekstil pakaian jadi mampu melakukan penyesuaian dengan cepat dan mengalihkan produksinya untuk membuat APD,” ungkapnya.

UMKM Fleksibel

Peserta pelatihan memproduksi alat pelindung diri (APD) berupa pakaian dekontaminasi atau baju hazmat di Balai Latihan Kerja (BLK), Cibodas, Kota Tangerang, Rabu (15/4/2020). BLK memproduksi baju hazmat berbahan Polypropylene Spundbound secara mandiri untuk tenaga medis. (Liputan6.com/Fery Pradolo)
Peserta pelatihan memproduksi alat pelindung diri (APD) berupa pakaian dekontaminasi atau baju hazmat di Balai Latihan Kerja (BLK), Cibodas, Kota Tangerang, Rabu (15/4/2020). BLK memproduksi baju hazmat berbahan Polypropylene Spundbound secara mandiri untuk tenaga medis. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Menteri koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan, sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ada yang mengalami kerugian di tengah pandemi Corona. Namun ternyata juga ada usaha kecil yang mampu bertahan dan bahkan mengambil keuntungan.

Sebanyak 65 persen UMKM mengeluhkan karena jumlah permintaan menurun baik permintaan dalam negeri maupun luar negeri.

Sementara UMKM yang mampu membukukan keuntungan adalah UMKM yang mampu mengubah produksi atau beralih usaha karena melihat peluang di tengah wabah corona, seperti ada yang memproduksi Alat Pelindung Diri (APD), masker, hand sanitizer dan lainnya.

“Ada juga konveksi-konveksi yang beralih produksi membuat APD, masker, dan sekarang permintaan cukup besar ada juga yang membuat hand sanitizer,” ujarnya.

Lanjut, Teten mengatakan bahwa UMKM yang masih bertahan juga mengalami kesulitan dalam memperoleh bahan baku, ia menyebut sektor makanan dan minuman yang terdampak sekali, karena bahan baku gula sulit ditemukan atau langka dan harganya tinggi.

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih mengakui ada beberapa sektor IKM yang paling terdampak Corona seperti pangan. Transaksi usaha IKM pangan turun hingga sekitar 54,14 persen. “Semisal yang buat bahan kopi, bahan bakso. Bukan kafenya ya,” ujar dia kepada Liputan6.com.

Selain pangan, IKM di sektor konveksi pun secara keseluruhan terdampak. Namun kemudian IKM konveksi melihat peluang yang bisa melanggengkan usahanya. Pengusaha sektor ini kemudian beralih menjual produk kesehatan seperti masker, dan berbuah hasil.

“Jadi yang biasanya jual baju dia kemudian diversifikasi produk jual masker. Pokoknya yang berhubungan dengan produk kesehatan sekarang ini lagi naik, termasuk masker itu,” tukas Gati.

Gati menyebutkan, buah karya IKM yang menjual produk kesehatan terutama cairan pembersih tangan (hand sanitizer) laku keras. Tak main-main, transaksi dagangannya pun laris manis dan meningkat sangat pesat. “Yang jual hand sanitizer sekarang ini memang lagi naik. Tahu berapa kenaikannya? Bisa sampai 700 persen,” seru dia.

Beberapa kelompok usaha IKM yang berhasil mempertahankan kegiatannya juga karena memanfaatkan platform online untuk berjualan. Bahkan, IKM tetap bisa meraup keuntungan selama masa pandemi ini.

“Secara keseluruhan sektor IKM memang terdampak Covid-19. Tapi beberapa tetap bertahan dan usahanya meningkat berkat memanfaatkan platform online. Bahkan yang jualan baju pun ada loh (yang mengalami peningkatan),” jelas dia.

 

 

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Sumber