Jurus Kementerian BUMN Persempit Ruang Gerak Mafia Alat Kesehatan

1 views

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus berupaya mempersempit ruang gerak para pemain atau mafia impor alat-alat kesehatan (alkes) di tengah pandemi virus corona. Salah satunya dengan menekan impor kebutuhan bahan baku alkes, dan memperkuat produksi kebutuhan dalam negeri.

Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga mengatakan beberapa upaya tersebut sebetulnya sudah dulu dilakukan oleh Menteri BUMN, Erick Thohir dengan membentuk holding farmasi.

Pembentukan holding tersebut dilatarbelakangi akibat kebutuhan impor untuk alat kesehatan seperti obat-obatan mencapai di atas 90 persen.

“Sejak awal sudah diperkirakan Pak Menteri (Erick Thohir). Makannya pak menteri membuat holding farmasi adalah salah satu bagian untuk mejawab solusi itu supaya menurunkan, targetya holding apa menurunkan impor obat-obatan selama ini di atas 90 persen. Memperkecil impor kita,” kata Arya dalam video conference di Jakarta, Minggu (19/4/2020).

Aria mengakui dalam situasi sekarang memang masih cukup berat untuk menekan impor kebutuhan alat-alat kesehatan. Sebab kebutuhan dalam negeri sendiri saat ini ini masih melonjak akibat banyaknya rumah sakit yang membutuhkan untuk penanganan corona.

Di sisi lain untuk memenuhi kebutuhan ventilator, Kementerian BUMN terus bekerja sama dengan beberapa universitas untuk penyediaan alat tersebut.

 

 

Produksi

Anton Agusta melakukan uji coba ventilator buatannya di Bengkel Industri UMKM Agusta, Cidodol, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (14/4/2020). Agusta membuat ventilator sederhana hasil belajar secara online dari Forum O2 yang berpusat di Kota Barcelona, Spanyol. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Anton Agusta melakukan uji coba ventilator buatannya di Bengkel Industri UMKM Agusta, Cidodol, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (14/4/2020). Agusta membuat ventilator sederhana hasil belajar secara online dari Forum O2 yang berpusat di Kota Barcelona, Spanyol. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Saat ini Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung sudah memproduksi alat ventilator dengan biaya yang murah.

Hanya saja saat ini ventilator yang dibuat kedua universitas tersebut masih harus melalui uji klinis. Setelah selesai, dan lolos hasil tes maka tidak tertutup kemungkinan akan diproduksi secara massal.

“Nanti setelah ventilator ITB dan UI lolos uji klinis maka kita akan bikin. Jadi ternyata di UI dan ITB itu ventilator murah sakali walaupun bukan untuk ICU. Tapi artinya bisa kalau berhasil kita akan produksi untuk ventilator. Demikian obat-obatan diafarma kita tekan perkecil impor akan dilakukan,” jelas dia.

“Jadi kita akan mempersempit ruang gerak, dengan produksi dalam negeri ruang gerak mereka hilang karena dipenubi produk dalam negeri itu pasti tuh,” tandas dia.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

 

Sumber