Menyusuri Keindahan Gua Mesiu, Pesona Tersembunyi di Balik Perbukitan Karst Jambi

Liputan6.com, Jambi – Provinsi Jambi yang terletak di wilayah tengah Sumatra, terkenal memiliki keindahan wisata alamnya, mulai gunung dan hutan. Namun, ada satu destinasi alam yang masih belum familiar. Namanya Gua Mesiu. Di dalam gua ini punya potensi keindahan ornamen bebatuannya yang unik.

Gua Mesiu ini berada di kaki Bukit Rajo, Dusun Napal Melintang. Bukit Rajo masih menjadi bagian dari kawasan bentang alam karst (KBAK) Bukit Bulan, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Keberadaan gua Mesiu ini masih sangat alami dan belum terjamah karena baru sebatas dikenal oleh kalangan geolog.

Kepala Bidang Geologi pada Dinas ESDM Provinsi Jambi Karel Ibnu Suratno menjelaskan, kawasan bentang alam karst Bukit Bulan itu memiliki komponen geologi yang unik, baik secara fisik maupun keanekaragaman hayati, yaitu ada karst endoterm dan eksoterm.

“Di kawasan karst Bukit Bulan ada banyak gua, salah satunya Gua Mesiu. Juga ada sungai bawah tanah,” kata Karel beberapa waktu lalu.

Menurut cerita yang berkembang dari masyarakat setempat, konon Gua Mesiu ini dulunya pernah digunakan sebagai tempat penyimpanan bubuk mesiu pada zaman penjajahan Belanda. Berdasarkan cerita itu, nama mesiu pun sampai saat ini masih melekat.

Terlepas dari nama yang diberikannya itu, ternyata gua ini memiliki karakteristik unik dengan ornamen yang terbentuk adanya proses alami. Keindahan ornamen di dalam Gua Mesiu itu terungkap lewat Ekspedisi Karst yang dilakukan mahasiswa Mapala Siginjai Universitas Jambi, dua tahun silam.

Dalam laporan ekspedisi yang dimuat di laman mapalasiginjai.unja.ac.id menulis, Gua Mesiu adalah gua yang cukup luas dengan 3 pintu utama. Masing-masing pintu gua memiliki chamber yang luas nan eksotik.

Meski memiliki banyak lorong yang variatif, Gua Mesiu hanya memiliki panjang 185,55 meter di pintu kanan dan 254,73 meter di pintu kiri. Sementara itu, untuk lorong vertikalnya memiliki kedalaman 8 meter.

Di Gua Mesiu juga dijumpai paling banyak jenis ornamen. Di antaranya stalaktit, stalagmit, flowstone, rimstone hingga straw. “Dari sekian banyak jenis ornamen tersebut, stalaktit yang paling mendominasi,” tulisa laporan itu.

 

Banyak Potensi Gua dan Keanekaragaman Hayati

Jangkrik gua atau family Rhaphidophoroidea yang sering dijumpai olem tim ekspedisi Mapala Unja. (foto: mapalasiginjai.unja.ac.id)
Jangkrik gua atau family Rhaphidophoroidea yang sering dijumpai olem tim ekspedisi Mapala Unja. (foto: mapalasiginjai.unja.ac.id)

Masih dalam catatan ekspedisi karst Bukit Bulan itu, tim ekspedisi sengaja memilih lokasi Bukit Rajo sebagai sasaran ekspedisi. Bukit Rajo di kawasan bentang alam karst Bukit Bulan itu selain paling luas, juga menyimpan banyak potensi gua.

Selama ekspedisi itu, tim Mapala Siginjai Unja menemukan 15 gua yang belum terdata. Dari total gua yang tersebar di Bukit Rajo, Dusun Napal Melintang itu ada 87 pintu gua dengan ratusan lorong.

Namun, dengan keterbatasan tim dan waktu yang dibutuhkan, mereka hanya mampu mengeksplorasi dan memetakan 4 lorong gua. Empat gua tersebut adalah Gua Dalam Sajo, Gua Kedungung, Gua Mesiu, dan Gua Pelindi.

Selain itu, tim ekspedisi juga mendata kehidupan flora dan fauna di dalamnya. Berbagai macam jenis fauna dari yang bertulang belakang (vetebrata) dan yang tidak bertulang belakang (invetebrata). Fauna bertulang belakang didominasi oleh Kalelawar, Burung Sriti, Walet, dan mamalia yang bisanya hidup di sekitar mulut gua.

Pun dalam ekspedisi tersebut, tim menemukan 15 spesies fauna yang didominasi dari divisi anthropoda yang yang tersebar di tiga zona gua. Jangkrik gua atau Rhaphidophora sp merupakan jenis fauna yang paling banyak muncul di lorong-lorong gua.

Jika Anda menyukai kegiatan alam bebas Caving atau penelusuran gua, tak salah destinasi bentang alam karst Bukit Bulan itu menjadi tujuannya. Secara administratif Karst Bukit Bulan ini terletak di Dusun Napal Melintang, Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun, Jambi.

Perjalanan menuju Gua Mesiu sangat memanjakan mata dengan panorama perbukitan karst serta kawanan burung yang lalu lalang mencari persinggahan di antara ranting pohon, tulis akun resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi @jambi_tourism.

Berikut rute perjalannya:

Akses menuju Dusun Napal Melintang dapat ditempuh perjalanan darat. Jaraknya dari pusat pemerintah Kecamatan Limun sekitar 56 kilometer. Sementara jarak dari pusat pemerintahan Kabupaten Sarolangun sekitar 80 kilometer.

Perjalanan bisa dimulai dari Kota Jambi menggunakan kendaraan/travel dengan jarak tempuh 260 kilometer langsung menuju Dusun Napal Melintang. Anda bisa menginap di rumah penduduk dan keesokan harinya mulai menyusuri gua dan merasakan sensasi caving.

 

Simak juga video pilihan berikut ini:

Sumber