Perjuangan Warga Surabaya Usai Kehilangan Keluarga dan Sembuh dari COVID-19

Liputan6.com, Jakarta – Kisah pilu seorang warga Surabaya, Jawa Timur, Dea Winnie (28) yang kehilangan ayah, ibu, kakak dan calon keponakannya dalam waktu berdekatan pada akhir Mei hingga awal Juni 2020 karena COVID-19.

Dea menceritakan, kehilangan keluarganya dalam sepekan yang bermula pada akhir Mei hingga awal Juni 2020. Dea kehilangan sang ayah (68) pada 30 Mei 2020. Kemudian sang kakak (33) yang hamil delapan bulan tutup usia pada 31 Mei 2020. Sebelumnya bayi sang kakak sudah meninggal dalam kandungan. Sang ibu (60) meninggal pada 2 Juni 2020.

Sang ayah dan ibu belum sempat melakukan tes usap atau tes swab dan meninggal dengan status pasien dalam pengawasan (PDP) saat itu. Sedangkan sang kakak dinyatakan positif COVID-19.

Hal itu membuat Dea kaget dan sedih terutama ketika kenangan bersama keluarga terutama ibu dan kakaknya muncul. 

Oleh karena itu, ia juga meminta masyarakat untuk tidak meremehkan COVID-19. Dea menuturkan, memang boleh saja berbeda pendapat dan keyakinan mengenai COVID-19. Akan tetapi, hal itu jangan membuat orang sekeliling terutama rentan jadi ikut terinfeksi. Ia mengharapkan agar warga menjalani protokol kesehatan.

“Jangan meremehkan COVID-19. Boleh kita beda pendapat dan keyakinan, setidaknya sadar seluruh dunia alami. Kalau tidak percaya COVID-19 dan konspirasi tapi jangan bahayakan orang di sekeliling kita,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Selasa, (28/7/2020).

Dea juga sempat mengalami gejala COVID-19. Ia mengalami demam hingga 39 derajat celsius, merasakan sesak nafas.

“Minta tolong saudara yang punya kenalan dokter untuk minta diobati. Alhasil lumayan tapi kok tidak hilang-hilang. Dibantu Gugus Tugas COVID-19 Jatim untuk swab, hasilnya positif, ada gejala,” ujar dia.

Akan tetapi, Dea enggan untuk dievakuasi ke rumah sakit. Ia trauma dengan rumah sakit seiring baru kehilangan keluarga terdekatnya. “Saya isolasi mandiri di rumah. Dua kali dinyatakan positif. Itu awal pada 5 Juni,” kata dia.

Dea menceritakan, kondisinya sempat menurun dan kaget ketika dinyatakan positif COVID-19. Sebelumnya dia juga sempat hasil tes dinyatakan invalid hingga kemudian dinyatakan positif COVID-19. Ia pun sempat merasakan kehilangan indra penciuman dan perasa.

“Awal-awalnya merasakan demam tinggi, batuk dan sesak nafas. Saya sugesti diri saya masih muda dan pasti sembuh. Indra penciuman dan perasa sempat enggak bisa merasakan makanan, tetapi saya paksa makan,” kata dia.

Jalani Isolasi Mandiri

Ilustrasi Pencegahan Covid-19 Credit: pexels.com/cottonbro
Ilustrasi Pencegahan Covid-19 Credit: pexels.com/cottonbro

Selama isolasi mandiri di rumah, Dea mengaku mengkonsumsi obat, vitamin, dan setiap hari berjemur selama 10 menit. Ia memang diberikan obat herbal oleh saudara dan teman-teman tetapi bingung memilihnya. Untuk meningkatkan imun tubuh, Dea pun meyakinkan dirinya untuk berpikir positif dan tidak overthinking.

“Di kasih obat antivirus, vitamin, berjemur. Saya sugesti diri, tidak overthingking, tidak cemas,” kata dia.

Selain itu, ia juga melakukan kegiatan yang disukainya ketika isolasi di rumah. Salah satunya memasak. “Karena saya suka masak, masak sendiri meski tidak bisa merasakan. Membuang waktu dengan video call bersama teman, main hp, bikin happy saja,” tutur dia.

Ia pun akhirnya sembuh dan dinyatakan negatif. Kini Dea kembali bekerja dan beraktivitas. “Sekitar 10 Juli baru dinyatakan negatif,” kata dia.

Saat ini, Dea juga menuturkan lebih waspada terutama dalam menerapkan protokol kesehatan. “Hati-hati dan sadar diri, karena keluarga sudah kena, aku kena. Jadi jaga kesehatan, sekarang bersih banget, masih konsumsi vitamin, dan kalau uang langsung pakai hand sanitizer,” tutur dia.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Sumber