Permintaan Sayuran Hidroponik Tetap Tinggi Meski Sedang Wabah Corona

Liputan6.com, Kediri – Permintaan sayuran hidroponik di Kota Kediri, Jawa Timur, hingga saat ini masih cukup tinggi, dan tidak terimbas dari lesunya pasar efek dari pandemi virus corona. Petani justru memutar otak bagaimana bisa terus memenuhi permintaan yang tetap tinggi.

“Untuk sayuran saat ini relatif pemasarannya bagus. Panen dilakukan rutin dan permintaan tidak turun,” kata Bendahara Komunitas Hidroponik Kota Kediri (Kohikari) Hariyanto di Kediri, Rabu, 15 April 2020, dilansir Antara.

Ia menjelaskan dari petani hidroponik biasanya setelah panen langsung ada orang yang mengambilnya. Nantinya sayuran hasil panen tersebut akan ke restoran maupun pusat perbelanjaan di Kota Kediri. Selain itu, pemasaran juga dilakukan secara daring.

Petani, kata dia, merasakan panen juga relatif bagus. Bahkan, animo warga untuk bercocok tanam dengan sistem hidroponik di Kota Kediri cukup bagus. Saat ini, ada sekitar 100 orang anggota komunitas yang telah bergabung.

Kendati mereka mayoritas masih baru bergabung, hasil tanam juga cukup bagus. Beberapa tanaman yang ditanam adalah sejenis sawi, antara lain sawi samhong atau sering disebut juga sawi keriting, pokchoy, pagoda, kangkung, serta sawi.

Hariyanto mengakui bahwa dirinya mempunyai 200 lubang untuk media tanaman sistem hidroponik tersebut. Sayur yang ditanam juga beragam, misalnya pagoda, kangkung, dan pak choy. Namun, dirinya berniat menambah media tanam. Saat ini, dirinya menyiapkan sekitar 1.000 lubang untuk media tanam tersebut.

Ia menambahkan, panen juga bisa dilakukan sekitar satu pekan sekali. Sekali panen di media tanamnya bisa menghasilkan sekitar 40 kilogram sayuran. Usia tanaman juga beragam, misalnya pagoda sekitar 40 hari baru panen, kangkung 28 hari baru panen, dan pak choy usia 35 hari baru bisa dipanen.

Bahkan, harga jual juga bisa relatif lebih bagus. Jika tanam di sistem hidroponik bisa dijual sendiri sekitar Rp20 ribu per kilogram dan jika diambil tengkulak sekitar Rp15 ribu per kilogram. Untuk sayuran dengan sistem di tanah, harganya di bawah sistem hidroponik.

Dia menambahkan, permintaan terus tinggi. Di masa pandemi corona seperti sekarang ini, kebutuhan sayuran lebih banyak dijual di sekitar Kediri dan lewat daring ketimbang dikirim ke luar kota, seperti Surabaya.

“Permintaan bagus, bahkan ini kurang. Jadi, sekarang tinggal menyiasati untuk sistem tanam, karena panen dilakukan sekitar satu pekan sekali,” ujar dia.

 

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

Bantuan untuk Warga yang Isolasi Mandiri

Pihaknya dan anggota komunitas juga tidak segan memberikan sayuran kepada warga yang melakukan isolasi mandiri di Kota Kediri, setelah temuan salah seorang warga di daerah itu positif corona.

“Kami menyumbang ke Perumahan Wilis, Kelurahan Balowerti, dan Kelurahan Bujel,” kata Hariyanto.

Ia mengatakan, pemberian bantuan memang salah satunya diperuntukkan bagi warga yang tinggal di rumah, karena ada salah satu warganya yang positif terinfeksi virus corona. Warga di sekitar rumah pasien itu harus melakukan isolasi mandiri selama 14 hari.

Pihaknya berharap, sumbangan tersebut bisa membantu meringankan beban warga. Selain itu, dengan makan sayuraa kebutuhan nutrisi hingga vitamin, serta mineral yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk kekebalan bisa dipenuhi. Jika tubuh kebal penyakit, akan meminimalisir terjangkitnya virus.

Sayuran yang diberikan itu misalnya pak choy, samhong, pagoda, sawi, dan serta mentimun dengan jumlah total sekitar 70 bungkus. Selain sayuran, juga ada lauk berupa tahu.

“Kami hanya ingin meringankan beban korban dampak virus corona dan ingin berbagi dari hasil tanam hidroponik. Kalau nanti sudah panen lagi, InsyaAllah kegiatan ini berlanjut. Kami juga mendoakan semoga virus corona segera berakhir,” harap Hariyanto.

Saksikan Video Pilihan Ini

Sumber