PSBB Jakarta Berakhir Hari Ini, Ahli Epidemiologi: Lanjut atau Tidak Kuncinya di Angka Reproduksi

Liputan6.com, Jakarta Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB di DKI Jakarta yang telah dilakukan untuk kali ketiga akan berakhir pada Kamis esok (4/6/2020). Kejelasan akan diperpanjang atau tidaknya PSBB DKI hingga kini belum resmi diumumkan oleh Gubernur Jakarta, Anies Baswedan.

Namun dengan kondisi seperti ini, layakkah jika Jakarta kembali melanjutkan PSBB atau justru sebaliknya, menyetop dan melakukan pelonggaran?

Pakar Epidemiologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjdjaran (Unpad), Bony Wiem Lestari mengatakan bahwa semua itu bergantung pada angka reproduksi atau reproduction number (Rt) sudah kurang dari satu selama dua minggu.

Angka reproduksi adalah suatu cara dalam memberi peringkat pada kemampuan penyebaran sebuah penyakit. 

Angka tersebut dianggap menjadi kunci dalam pengambilan kebijakan berbagai pemerintah di seluruh dunia mengenai pencabutan karantina wilayah alias lockdown, atau dalam kasus Indonesia, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Hal itu mengacu pada ketentuan organisasi kesehatan dunia atau WHO.

“Itu persyaratan utamanya, nah saya kurang atau ini di DKI Jakarta kan kemarin sudah mendekati satu tuh, nah mungkin satu koma nol berapa. Tapi apakah kemudian bertahan atau naik saya engak tau,” papar Bony kepada Liputan6.com, Rabu (3/6/2020).

Bony mengaku tidak mengetahui angka reproduksi penularan virus Corona di Jakarta. Namun jika melihat fakta yang dikabarkan Tim Gugus Tugas soal jumlah infeksi di Jakarta, Bony mengatakan jumlahnya cenderung masih banyak penemuan kasus positif.

“Penemuan kasus positif kan menambah lagi (angka reproduksi). Jadi syarat dari WHO itu dua minggu (berturut-turut) loh harus di bawah satu (angka reproduksinya),” jelas Bony

“Kalau gagal, ya sudah diperpanjang (PSBB-nya), kan gitu,” sambungnya.

Menurut Bony kalau mau yakin epidemi di Jakarta bisa terkontrol, maka sebelum melakukan pelonggaran angka reproduksinya harus benar-benar di bawah satu. Jangan sampai meskipun angkanya satu, tapi dalam perhitungannya terjadi bias. Bias yang dimaksud misalnya ada masalah dalam pengetesan.

“Kan bisa aja nanti turun kasus positif tapi ternyata (karena) reagen abis, reagen PCR abis, alat untuk swab habis ya kalau gitu kan bias jadinya,” terang Bony.

 

Penerapan Konsep Micro Lockdown?

Suasana kepadatan arus lalu lintas di sekitar pintu masuk Tol Dalam Kota Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (29/5/2020). Meski masa PSBB di Jakarta baru akan diumumkan 4 Juni mendatang, namun jalanan Ibu Kota mulai dipadati kendaraan. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Suasana kepadatan arus lalu lintas di sekitar pintu masuk Tol Dalam Kota Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (29/5/2020). Meski masa PSBB di Jakarta baru akan diumumkan 4 Juni mendatang, namun jalanan Ibu Kota mulai dipadati kendaraan. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Sementara itu saat ditanya mengenai efektivitas wacana penerapan Pembatasan Sosial Berskala Lokal atau micro lockdown, Bonny menyebut itu tergantung pada sumber kasus penularan. Menurutnya, konsep ini berasal dari Singapura yang kecolongan karena terdapat sebaran infeksi di suatu perkampungan kumuh para pekerja migran.

“Singapura itu sudah baik tuh penanganan Covid waktu awal- awal di mana dia menutup penerbangan, kasus (positif) Singapura kemudian turun. Tapi istilahnya mereka kecolongan karena ternyata banyak pekerja migran dari Pakistan, Bangladesh. Mereka itu di tempat-tempat yang kumuh dan kemudian membuat klaster baru,” terang Bony.

Bony mengingatkan jika itu diterapkan di Jakarta perlu diperhatikan dinamika epideminya. Apakah jika suatu kelurahan ditemukan kasus positif yang banyak itu benar-benar karena infeksi lokal, atau justru kasus impor (imported case).

“Contoh imported case itu ada warga Jakarta yang dia mungkin TKI kemudian kan kemarin ada kesempatan untuk pulang, terus dia pulang terus PCR-nya positif dia terdaftar di domisili tertentu di Jakarta sehingga ya kelurahan di situ akan naik,” jelasnya.

Hal itulah yang menurut Bony harus dilihat dinamikanya, apakah memang di suatu kelurahan yang jumlah infeksinya tinggi karena tertular dari seseorang yang berasal dari kelurahan sama atau justru penambahan dari orang luar atau kerap disebut imported case.

“Dinamika itu harus kita pelajari dulu sebelum menentukan kelurahan mana yang akan kita intervensi,” tandasnya.

Displin Jalankan PSBB

Presiden Joko Widodo berbincang dengan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Pol Idham Aziz dan Gubernur DKI Anies Baswedan usai meninjau kesiapan penerapan prosedur standar New Normal di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Selasa (26/5/2020). (Tribunnews/Irwan Rismawan/Pool)
Presiden Joko Widodo berbincang dengan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Pol Idham Aziz dan Gubernur DKI Anies Baswedan usai meninjau kesiapan penerapan prosedur standar New Normal di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Selasa (26/5/2020). (Tribunnews/Irwan Rismawan/Pool)

Sebelumnya, Gubernur Anies Baswedan menjelaskan tentang angka reproduksi virus Corona sebagai ukuran untuk mengetahui seberapa besar tingkat penularan COVID-19.

Pada Maret, angka di DKI Jakarta, kata Anies, sempat mencapai 4, yang artinya 1 orang bisa menulari 4 orang. Namun seiring berjalannya PSBB, angka reproduksi efektif di Jakarta mampu diturunkan menjadi kisaran 1. Angka Rt perlu diturunkan menjadi di bawah 1.

“Angka ini semua menggambarkan bahwa kita bergerak kurang-lebih di angka 1 reproduction number-nya. Kita harus menurunkan ini,” jelas Anies.

Menurut Anies cara menurunkannya adalah dengan menjalankan PSBB secara lebih disiplin, yakni warga harus tetap berada di rumah. Saat itu, persentase warga Jakarta yang berada di rumah sempat mencapai 60%.

Dia ingin agar persentase warga yang tetap berada di rumah mencapai 70% hingga 80% supaya angka penularan COVID-19 bisa turun.

“Bila kita melakukan kedisiplinan tetap berada di rumah 2 minggu ke depan, maka insyaallah setelah 2 minggu ini kita bisa keluar dari fase PSBB,” kata Anies.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Sumber