SHOWBIZ BLAK-BLAKAN: Aktor Tampan Itu Membuat Putriku Durhaka Padaku (Bagian 3)

Liputan6.com, Jakarta Sebulan pertama merintis usaha kuliner, semua berjalan mulus. Pendapatan bersih perlahan terlihat jelas. Masalahnya, memasuki bulan kedua dan ketiga mulai terlihat fluktuasi pendapatan. Bulan keempat, entah mengapa surut. Entahlah mungkin orang mulai bosan karena jenis makanan belum bervariasi.

Apa boleh buat, bisa menangangi pesanan dalam waktu cepat setiap hari saja sudah bagus. Belum kepikiran untuk bikin menu baru. Akibatnya, jumlah pesanan terus menurun. Aku tak mau mati konyol. Lantas kuputar otak untuk meminjam modal usaha. Tapi kepada siapa? Terlintas di benakku nama Pak Astono.

Mumpung Yami belum pulang, aku menghubungi Pak Astono sekadar menanyakan kabar dan perkembangan penggarapan album baru Gea. Pak Astono langsung mengangkat teleponku. Dia bilang tak bisa berbincang lama. Namun lusa, ia senggang karena kadung ambil cuti demi acara keluarga tapi acara tersebut batal.

Aku Sudah Mati Rasa

Ilustrasi es kopi susu. Sumber foto: unsplash.com/Tyler Nix.
Ilustrasi es kopi susu. Sumber foto: unsplash.com/Tyler Nix.

Pak Astono memintaku menemuinya di sebuah kedai kopi di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Dia bilang, ada yang mau disampaikan kepadaku. Perasaanku tak enak tapi aku sudah bisa membayangkan apa topiknya. Terlalu banyak hal tak enak yang belakangan terjadi di hidupku. Aku mulai mati rasa.

Karenanya, kabar tak enak terasa enak-enak saja. Lusa yang dinanti tiba. Aku menanti di pojok kedai, dengan secangkir cokelat hangat di meja. Belum sampai 15 menit duduk, Pak Astono dengan kemeja lengan panjang hitam polos dan celana jin biru menghampiri lalu menjabat tanganku.

“Telat 12 menit, mohon maaf Mbak Isha,” katanya sambil tersenyum. “Mencari tempat parkir di jam makan siang makin susah, ya?” sambungnya sambil menanti kopi pahit pesanannya. “Enggak apa-apa, Pak. Pak Astono sehat-sehat, kan?” tanyaku.

Aku Yang Disingkirkan

“Sehat, sampai akhirnya saya tahu Gea punya manajer baru yang perilakunya sama songongnya dengan anak Anda belakangan ini. Sorry kalau saya langsung terus terang,” jawabnya. Manajer baru? Tak kaget. Kalau ibunya sendiri disingkirkan, otomatis dia sudah menyiapkan pengganti yang sesuai dengan keinginan.

“Sudah berapa lama Pak Astono berkomunikasi dengan manajernya yang ganteng itu,” tanyaku sambil membantu pramusaji meletakkan makanan yang kami pesan. Salad, sup, dan kentang goreng seporsi.

“Darimana Mbak Isha tahu kalau manajer Gea laki-laki?” Pak Astono tanya balik.

“Kan saya yang disingkirkan, Pak. Otomatis saya tahu siapa pengganti saya meski Gea tidak memberi pengumuman resmi.”

 

Bagiku Ini Aib Keluarga

“Manajer yang buruk perlahan membuat citra artis menjadi ikut buruk di mata klien dan penggemar. Mbak Isha tahu betul itu karena ikut menangani karier Gea sejak awal.”

Kepada Pak Astono, aku menceritakan kronologi perkenalan Aditya dan Gea termasuk bisnis toko roti Yosita yang gagal. Bagaimana Aditya membawa pengaruh buruk hingga akhirnya Gea merasa lebih nyaman berada di luar rumah. Namun bagian Gea menarik semua aset, tak kuceritakan. Bagiku, ini aib keluarga.

Tak perlu diumbar meski Pak Astono sudah seperti adikku sendiri. Ia lebih muda 4 tahun dariku. Pak Astono mengeluhkan pemilihan lagu Gea yang belakangan sok eksentrik sementara menjual single dan album belakangan makin susah. Setiap kali ia memberi pandangan lain, Aditya tiba-tiba ikut menimbrung.

Diceramahi Anak Kemarin Sore

Aditya ikut campur bukan untuk mengingatkan Gea melainkan ikut memojokkan Pak Astono. Mendengar cerita ini, aku syok. Pak Astono tahu persis, aku kaget.

“Kalau Mbak Isha, kan punya pengalaman 10 tahun menjadi penyiar radio dan music director sebelum akhirnya mundur karena punya mesti mengurus anak,” keluh Pak Astono.

“Selama mengurus anak pun, Mbak masih aktif siaran seminggu dua kali, kan? Paling enggak, Mbak Isha tetap mengikuti tren musik dan rajin berinteraksi dengan penikmat musik. Aditya kamp**t ini siapa? Anak kemarin sore menceramahi saya soal electronic dance music? Suara Gea itu kental aksen country dan pop. Kurang masuk ke EDM,” ia melanjutkan. Mukanya tampak gusar.

 

Pak Astono Ternyata Tahu…

Aku hanya mengangguk dan membenarkan. Sebelum Aditya merusak hubunganku dengan Gea, aku sudah siapkan sejumlah lagu genre pop balada dan R&B tradisional dari 3 pencipta lagu kondang negeri ini. Semua telah dibatalkan Aditya.

“Saya turuti kemauan Gea dan Aditya dengan sejumlah catatan finansial. EDM ini menurut saya seperti ledakan musik ska tahun 1999 sampai 2002. Umurnya di industri tidak akan lama,” katanya.

“Oh ya, Mbak Isha. Dengan beralihnya jabatan manajer dan ditariknya seluruh aset dari pengawasan Mbak, sekarang Mbak Isha kerja apa?”

Loh, dari mana orang ini tahu kalau Gea telah menarik seluruh asetnya dariku? Belum sempat kutanyakan, Pak Astono tampaknya membaca pikiranku. Ia terkekeh lalu menyeruput kopinya sampai ludes.

 

Aroma Butuh Uang

“Gea mengawali karier bertahun lalu di perusahaan rekaman saya. Saya tahu persis kalau Gea dan nyokapnya lagi ada masalah pasti raut muka mereka aneh. Dari sejak saya sampai di kedai kopi ini, masalah menggelayut di kantung mata Mbak Isha,” ujarnya.

Aku tak bisa menyembunyikan apa-apa lagi dari produser eksentrik ini. Akhirnya kujelaskan, aku terpaksa menyambung hidup dengan menjual nasi ayam dan nasi iga. Bagian butuh modal untuk mengembangkan usaha belum kubahas. Lagi-lagi Pak Astono mencium aroma aku butuh uang buat tambahan modal.

Ia lantas mengeluarkan ponsel dan memainkan jari-jarinya di layar sentuh. Beberapa detik kemudian, ia memperlihatkan kepadaku bukti transfer uang sekian puluh juta rupiah. Aku tak mau sebut angka pastinya di sini. Aku kaget bukan kepalang. Pak Astono sibuk menenangkanku.

 

Pengen Mengusir Aditya

“Mbak Isha enggak perlu kaget. Jujur, saya menyembunyikan sejumlah uang dari keuntungan bersih album terakhir Gea yang seharusnya menjadi haknya. Oke, saya sebut, 10 persen dari laba bersih itu saya amankan di deposito atas nama saya pribadi. Ini saya kembalikan 25 persen dulu buat tambahan modal usaha,” Pak Astono menjelaskan.

“Sisanya saya serahkan ke Mbak secara berkala. Saya lebih senang kalau sisanya buat jaga-jaga kuliah Yami yang belum beres. Maaf kalau saya terlalu masuk ke urusan keluarga kalian. Tapi Aditya ini benar-benar pengaruh buruk,” jelasnya lagi.

“Kalau Gea anak kandung saya, sudah saya tempeleng Aditya lalu saya suruh minggat.”

 

Menangis di Kamar

Mau menangis, tapi malu karena ini ruang publik. Pak Astono memintaku segera pulang. Siapa tahu Yami pulang lebih cepat, nanti malah menimbulkan kecurigaan. Aku mengucapkan terima kasih. Pak Astono menjabat tanganku erat lalu menepuk pundakku pertanda mengirim semangat.

Benar sekali, 30 menit setelah aku tiba di rumah, Yami pulang. Di saat yang sama, Pak Astono mengirim kabar via WhatsApp agar aku bersiap menangani pesanan katering untuk karyawan rumah produksinya khusus Selasa dan Kamis. Selasa menu ayam, Kamis menu iga porsi sedang agar sesuai bujet.

Aku masuk ke kamar lalu menyampaikan doa syukur. Air mataku membasahi bantal. “Ya Tuhan, ada saja pertolongan darimu di masa paceklik seperti ini,” ucapku dalam hati. (bersambung)

(Anjali L.)

 

Disclaimer:

Kisah dalam cerita ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan jalan cerita, tokoh dan tempat kejadian itu hanya kebetulan. Seluruh karya ini dilindungi oleh hak cipta di bawah publikasi Liputan6.com.

Sumber