Stok Minim Saat Corona COVID-19, Kebijakan Daur Pakai APD di Inggris Dikritik

Liputan6.com, London – Pedoman baru pemerintah Inggris seputar alat pelindung diri (APD) di tengah pandemi virus corona menuai kritik. Kekhawatiran yang dikemukakan adalah bahwa kebijakan tersebut dapat menempatkan tenaga medis dan pasien dalam risiko.

Petugas kesehatan telah disarankan untuk menggunakan kembali APD atau memakai perlengkapan yang berbeda jika stok di Inggris menipis, demikian seperti dikutip dari BBC, Minggu (19/4/2020).

Serikat pekerja yang mewakili dokter dan perawat telah menyatakan keprihatinan tentang pedoman Public Health England yang diperbarui.

Itu terjadi ketika Inggris mencatat 888 kematian akibat virus korona, menjadikan jumlah total kematian di rumah sakit menjadi 15.464.

Ada peringatan bahwa beberapa rumah sakit bisa kehabisan APD yang digunakan di unit perawatan intensif akhir pekan ini. Pemerintah mengatakan sedang berupaya menyediakan stok kebutuhan APD rumah sakit.

Staf layanan kesehatan yang merawat pasien dengan infeksi virus corona sebelumnya telah disarankan untuk mengenakan APD alternatif berupa pakaian anti-cairan sekali pakai.

Tetapi Public Health England mengubah pedomannya pada Jumat 17 April, menguraikan tiga opsi jika APD itu tidak tersedia, karena “beberapa kompromi diperlukan untuk mengoptimalkan pasokan APD di saat kekurangan ekstrem”.

Salah satu pilihan adalah bagi rumah sakit untuk memesan APD untuk operasi dan prosedur bedah yang cenderung cukup mudah mentransmisikan patogen pernapasan, termasuk di antaranya virus corona.

Kebijakan lain yang disarankan adalah agar tenaga medis untuk menggunakan kembali “APD atau baju bedah yang bisa dicuci” atau pakaian serupa yang cocok (misalnya, jas laboratorium lengan panjang, baju pasien, atau baju industri).

 

Kehabisan Stok

Para staf Food For All mempersiapkan makanan untuk tunawisma di London, Inggris, Selasa (31/3/2020). Pemerintah Inggris terus berupaya memerangi wabah corona COVID-19, sementara komunitas hingga badan amal berusaha menyediakan makanan bagi kelompok masyarakat paling rentan. (Xinhua/Tim Ireland)
Para staf Food For All mempersiapkan makanan untuk tunawisma di London, Inggris, Selasa (31/3/2020). Pemerintah Inggris terus berupaya memerangi wabah corona COVID-19, sementara komunitas hingga badan amal berusaha menyediakan makanan bagi kelompok masyarakat paling rentan. (Xinhua/Tim Ireland)

Ada kekhawatiran bahwa Inggris akan benar-benar kehabisan APD selama akhir pekan ini.

Chris Hopson, ketua badan perwalian NHS Providers, mengatakan, “Kami mencapai titik di mana stok nasional APD dan baju anti-cairan nyaris habis.”

Stok baru yang dipesan Inggris dari China belum datang.

Royal College of Nursing mengatakan pedoman baru penggunaan APD di Inggris dikembangkan tanpa konsultasi penuh dan British Medical Association (BMA) –yang mewakili dokter– mengatakan setiap perubahan harus didorong oleh sains, bukan ketersediaan.

Dr Rob Harwood, ketua komite konsultan di British Medical Association, mengatakan: “Terlalu banyak petugas layanan kesehatan telah meninggal.

“Lebih banyak dokter dan kolega mereka tidak dapat diharapkan untuk mempertaruhkan nyawanya sendiri dalam upaya menyelamatkan orang lain, dan saran baru ini berarti mereka bisa melakukan hal itu. Itu bukan keputusan yang harus mereka buat.”

Dr Harwood menambahkan: “Adalah kekecewaan nyata bagi kami bahwa pemerintah tidak mampu, bahkan setelah satu bulan, untuk mengatasi kekurangan APD yang semakin memburuk ini.”

Seorang juru bicara Departemen Kesehatan mengatakan: “Saran klinis baru telah dikeluarkan hari ini untuk memastikan bahwa jika ada kekurangan di satu area, staf garis depan tahu APD apa yang harus dikenakan untuk meminimalkan risiko.”

Juru bicara itu menambahkan saran itu sejalan dengan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pengendalian Penyakit AS (CDC) tentang penggunaan APD dalam “keadaan luar biasa.”

Simak video pilihan berikut:

Sumber